Kunci utama agar bisnisnya menuai keberkahan

Kunci utama agar bisnisnya menuai keberkahan

Bagi pedagang yang bertauhid kata amanah merupakan sifat mulia yang idealnya diwujudkan setiap pedagang muslim.

Kunci utama agar bisnisnya menuai keberkahan adalah “meyakini sepenuh hati bahwa Allah Ta’ala yang menurunkan rezeki dan mengaturnya sedemikian sempurna”

Ini bukti tauhid rububiyah yang harus diimani setiap mukmin

Selain itu dalam berniaga dia juga harus berdoa dan bertawakal kepada Allah Ta’ala, menempuh jalan jalan yang halal agar perniagaannya dicintai Allah Ta’ala.

Dari hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسْتَبْطِئُوْاالرِّزْقَ, فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ العَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ رِزْقٍ هُوَ لَهُ, فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ, أَخْذِ الحَلاَلِ وَ تَرْكِ الحَرَامِ

“Janganlah menganggap rezeki kalian lambat turun, sesungguhnya tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezekinya. Carilah rezeki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram.” (HR. Ibnu Hibban [3239, 3241], Al Hakim [II/4], Al Baihaqi [III/156-157]).

Pedagang yang bertauhid percaya bahwa rezeki tak akan salah alamat. Semua telah ditentukan Allah Ta’ala dan seorang mukmin harus berprasangka baik. Ia juga percaya bahwa ketika ia dizalimi oleh sesama pedagang, bahwa yang menentukan rezeki hanya Allah Ta’ala semata.

Syukurilah rezeki yang telah diberikan Allah dan tidak sepantasnya membanding-bandingkan dengan jatah orang lain, bertaqwalah secara total pada Allah Ta’ala.

Dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ, ورُزِقَ كَفَافًا, وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup dan dia merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya” (HR. Muslim no. 1654).

Tatkala qadarullah keuntungan Anda suatu ketika sedikit atau bahkan merugi, janganlah mengeluh mencari kambing hitam menyalahkan orang lain. Ber-husnuzhan-lah, mungkin ini momen indah agar Anda intropeksi diri dan mulai berbenah diri. Barangkali ada sesuatu yang salah dan perlu dievaluasi dalam muamalah jual beli Anda.

Syuraih meriwayatkan bahwa Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pada saat menjadi khalifah melakukan pemeriksaan di kota Kufah sambil membawa tongkat, ia berkata, “Wahai para pedagang, beli dan juallah dengan cara yang benar niscaya kalian akan selamat. Jangan tolak keuntungan yang sedikit, jika kalian tolak, kuatir kalian tidak mendapat keuntungan yang besar” (Al Muttaqi Kanzul Ummal, jilid X, hal. 282).

Atau suatu ketika pembeli berutang karena terpaksa, maka niatkanlah ikhlas karena Allah Ta’ala, Anda telah menolong saudara sesama muslim. Bersikaplah santun dan mudahkanlah urusannya niscaya Allah Ta’ala akan memudahkan urusan Anda di dunia dan di akhirat. Jangan bersedih, ketika Anda berbuat kebaikan. Demikian pula saat diajak bermaksiat seperti membuat nota palsu, menyuap, atau memanipulasi produk, dan bentuk kezaliman lainnya, maka tolaklah dengan penuh keyakinan, pedagang bertauhid pantang menerobos dosa.

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al Anfal: 27).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Seluruh pekerjaan yang diamanahkan Allah kepada setiap hambaNya yaitu perkara fardhu, maka Allah berfirman: ‘janganlah kalian khianati, yakni jangan kalian mencuranginya’” (Tafsir Ibnu Abi Hatim, 5/1684).

Semoga dengan menjadi pedagang bertauhid niscaya Allah mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat dan dikumpulkan bersama para nabi dan hamba yang shalih lainnya. Pebisnis yang tidak menggadaikan aqidahnya demi keuntungan dunia. Namun menggenggam tauhid meski harus mengorbankan kenikmatan dunia.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *